Kemarin kajian tafsir rutin setiap hari Kamis di Masjid Baitul Hakim dengan Ustadz Amir Faishol Fath dimulai kembali setelah vakum cukup lama karena kondisi kesehatan ustadz yang kurang baik. Kajian tersebut cukup sebentar karena ustadz datang terlambat disebabkan hujan deras yang mengguyur Jakarta sore itu.
Beberapa poin dari kajian tersebut pernah saya dengar, tapi tidak mengapa. Ilmu akan semakin mantap jika kita ulang terus-menerus. Sampailah pada pesan ustadz yang menyampaikan agar janganlah kita menjadi seperti wanita pemintal benang yang disebutkan di Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 92 :
(وَلا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلاً بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَى مِنْ أُمَّةٍ إِنَّمَا يَبْلُوكُمْ اللَّهُ بِهِ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ) النحل:92.
”Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dangan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat kan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu. (QS. An-Nahl: 92)
Pada awal pesan, diceritakan ada seorang wanita yang tinggal di dekat ka’bah. Wanita tersebut tiap hari memintal benang. Saat benangnya habis, dia berpikir tidak akan ada lagi kegiatan yang bisa dilakukannya. Akhirnya dia mengurai kembali benang tersebut dan kemudian memintalnya lagi. Begitu terus berulang-ulang. Pikir saya, kurang kerjaan banget wanita itu.
Allah SWT mengabadikan perilaku wanita tersebut di dalam Al-Qur’an. Karena Allah tahu, begitu banyak manusia yang berperilaku seperti wanita itu. Ketika ustadz mengatakan bahwa sekarang pun milyaran manusia melakukannya, saya merasa yakin, saya bukan termasuk golongan itu. Masa’ saya kurang kerjaan banget. Kerjaan sekarang aja udah banyak sampai-sampai kurang waktu, begitu pikir saya. Tapi setelah mendengar penjelasan ayat tersebut, ternyata saya pun termasuk dalam golongan tersebut. Sedihnya.
Ustadz menganalogikan kegiatan memintal dan mengurai kembali benang tersebut dengan kegiatan manusia dalam mencari uang. Setiap hari kita bekerja keras dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore demi mendapatkan uang dan harta. Bahkan bisa lebih lama kalau lembur. Kita tekun sekali bekerja, sama seperti ketekunan wanita tersebut memintal benang. Tapi setelah kita mendapatkan uang & harta tersebut, sesegera mungkin kita habiskan untuk kepentingan dunia. Kita belanjakan uang tersebut untuk makan-makan, jalan-jalan ke luar negeri, hobi, investasi, dsb. Betapa sedikit uang yang kita zakatkan untuk kepentingan akhirat, untuk bekal kita di alam yang kekal selamanya. Persis seperti wanita yang mengurai kembali benang yang telah dia pintal.
Analogi lain yang dicontohkan yaitu tekad kuat kita saat bulan Ramadhan. Betapa kuatnya niat kita untuk ikut tarawih di masjid sampai-sampai jama’ah meluber ke luar, bangun tengah malam untuk tahajjud, membaca Al-Qur’an dengan target minimal 1 juz setiap hari agar bisa khotam sebelum Syawal, berlomba-lomba bersedekah dan berzakat, memberi makan orang yang berpuasa, dan masih banyak lagi ibadah-ibadah yang lain. Setelah Ramadhan berakhir, bisa kita saksikan berapa shaf yang tersisa di masjid. Kita tidak lagi bangun di tengah malam untuk tahajjud karena kantuk yang terasa berat. Qur’an pun hanya dibaca sedikit. Sedekah hanya beberapa ribu, itupun jika ingat.
Semoga ini menjadi renungan bagi kita semua. Janganlah kita menjadi seperti wanita pemintal benang untuk kemudian menguraikannya kembali.